Sign in

Ilham Akhsanu Ridlo

@sciencewatchdog.id
270 followers 785 following 133 posts

PhD-ing @ifkw.bsky.social research focuses on the intersection of #sciencejournalism and the political process in health policymaking. ⚠️Views are my own. Editor-in-Chief: ScienceWatchdog.id Recent research: orcid.org/0000-0001-5751-3665

PostsRepliesMedia
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 2h
OECD: AI Tingkatkan Nilai Siswa, Tapi Tidak Selalu Bikin Paham Laporan OECD terbaru menemukan bahwa kecerdasan buatan generatif dapat meningkatkan kinerja siswa secara signifikan. Namun, peningkatan tersebut tidak selalu mencerminkan keberhasilan belajar. Dalam sebuah eksperimen, siswa yang…
sciencewatchdog.id
OECD: AI Tingkatkan Nilai Siswa, Tapi Tidak Selalu Bikin Paham
Laporan OECD terbaru menemukan bahwa kecerdasan buatan generatif dapat meningkatkan kinerja siswa secara signifikan. Namun, peningkatan tersebut tidak selalu mencerminkan keberhasilan belajar. Dalam sebuah eksperimen, siswa yang menggunakan AI justru memperoleh hasil lebih rendah ketika harus mengerjakan soal tanpa bantuan teknologi. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin menjadi bagian dari kehidupan pendidikan. Siswa menggunakannya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, menyusun esai, memahami konsep matematika, hingga mempersiapkan ujian. Guru memanfaatkannya untuk menyusun materi pembelajaran, merancang soal, dan memberikan umpan balik. Di perguruan tinggi, teknologi ini juga semakin banyak digunakan untuk membantu membaca literatur, menyusun tulisan, dan menyelesaikan berbagai pekerjaan akademik.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 16/10/2026
Emisi Karbon dari Kebakaran Hutan dan Lahan Indonesia pada Oktober 2026 Tertinggi di Dunia Indonesia mencatat emisi karbon dari kebakaran hutan dan lahan tertinggi di dunia pada periode 8–14 Oktober 2026. Berdasarkan data Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) melalui Global Fire…
sciencewatchdog.id
Emisi Karbon dari Kebakaran Hutan dan Lahan Indonesia pada Oktober 2026 Tertinggi di Dunia
Indonesia mencatat emisi karbon dari kebakaran hutan dan lahan tertinggi di dunia pada periode 8–14 Oktober 2026. Berdasarkan data Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) melalui Global Fire Assimilation System (GFAS), rata-rata emisi karbon harian Indonesia mencapai 3.174 kiloton karbon (kt C), atau sekitar 3,17 juta ton karbon per hari. Angka tersebut jauh melampaui Brasil yang berada di posisi kedua dengan 1.042 kt C per hari, disusul Australia (438 kt C), Mongolia (266 kt C), dan Papua Nugini (184 kt C). Dengan demikian, emisi karbon harian Indonesia pada periode tersebut sekitar tiga kali lebih besar dibandingkan Brasil dan lebih dari tujuh kali lipat Australia.
022 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 25/08/2026
Kabar dari Jenewa: Indonesia Ajukan Budi Gunadi Sadikin sebagai Calon Dirjen WHO MUNICH - Indonesia akhirnya resmi mengajukan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebagai kandidat Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namanya muncul di laman resmi pemilihan WHO pada akhir pekan…
sciencewatchdog.id
Kabar dari Jenewa: Indonesia Ajukan Budi Gunadi Sadikin sebagai Calon Dirjen WHO
MUNICH - Indonesia akhirnya resmi mengajukan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebagai kandidat Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namanya muncul di laman resmi pemilihan WHO pada akhir pekan lalu, menjadi nama keempat yang tercatat, sekitar satu bulan sebelum pencalonan ditutup pada 24 September 2026. Ia bersaing dengan Dr. Hanan Mohammed Al-Kuwari yang diusulkan Qatar, Dr. Hanan Balkhy yang diusulkan Arab Saudi, dan…
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 21/08/2026
Manipulasi Sains Tidak Hanya Soal Ilmuwan Curang Beberapa bulan lalu di blog ini, saya mengulas bagaimana sains dimanipulasi, mulai dari maraknya paper mill, manipulasi sitasi, jurnal predator, hingga berbagai rekayasa yang membuat publikasi ilmiah tampak jauh lebih produktif dan berpengaruh…
sciencewatchdog.id
Manipulasi Sains Tidak Hanya Soal Ilmuwan Curang
Beberapa bulan lalu di blog ini, saya mengulas bagaimana sains dimanipulasi, mulai dari maraknya paper mill, manipulasi sitasi, jurnal predator, hingga berbagai rekayasa yang membuat publikasi ilmiah tampak jauh lebih produktif dan berpengaruh daripada kenyataan sebenarnya. Laporan Forensic Scientometric (FoSci) tahun 2026 membagi praktik kecurangan ini ke dalam tiga tingkatan mikro, meso, dan makro. Namun, manipulasi ini terus terjadi.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 18/08/2026
Erosi Skeptisisme Ada satu hal yang menurut saya semakin menarik dalam cara kita berdebat di ruang publik. Dalam pandangan saya saat ini, orang tidak selalu berhenti bersikap kritis karena mereka tidak mampu berpikir kritis. Kadang mereka berhenti karena sudah lebih dulu percaya pada orang yang…
sciencewatchdog.id
Erosi Skeptisisme
Ada satu hal yang menurut saya semakin menarik dalam cara kita berdebat di ruang publik. Dalam pandangan saya saat ini, orang tidak selalu berhenti bersikap kritis karena mereka tidak mampu berpikir kritis. Kadang mereka berhenti karena sudah lebih dulu percaya pada orang yang berbicara. Saya menyebut fenomena ini sebagai erosi skeptisisme (the erosion of scepticism), sebuah kondisi berkurangnya kecenderungan seseorang untuk…
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 11/08/2026
Is It True That Generative AI Cites LinkedIn More Often Than Scientific Journals? There’s been a shift in how people search for answers, and this shift has direct implications for researchers’ work. When students or fellow researchers have questions about a topic you’re an expert in, they’re now…
sciencewatchdog.id
Is It True That Generative AI Cites LinkedIn More Often Than Scientific Journals?
There’s been a shift in how people search for answers, and this shift has direct implications for researchers’ work. When students or fellow researchers have questions about a topic you’re an expert in, they’re now less likely to open Google Scholar or knock on your office door. Instead, they’re more likely to type their questions into ChatGPT or Google AI Overviews…
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 11/08/2026
Benarkah AI Generatif Lebih Sering Mengutip LinkedIn daripada Jurnal Ilmiah? Ada perubahan dalam cara orang mencari jawaban dan pergeseran ini berimplikasi langsung pada pekerjaan peneliti. Ketika mahasiswa atau sesama peneliti memiliki pertanyaan tentang topik yang Anda kuasai, mereka kini…
sciencewatchdog.id
Benarkah AI Generatif Lebih Sering Mengutip LinkedIn daripada Jurnal Ilmiah?
Ada perubahan dalam cara orang mencari jawaban dan pergeseran ini berimplikasi langsung pada pekerjaan peneliti. Ketika mahasiswa atau sesama peneliti memiliki pertanyaan tentang topik yang Anda kuasai, mereka kini semakin jarang membuka Google Scholar atau mengetuk pintu ruang kerja Anda. Mereka lebih sering mengetikkan pertanyaan tersebut ke ChatGPT atau Google AI Overviews dan menerima jawaban yang sudah dirangkum, lengkap dengan sumber yang dipilih oleh mesin, bukan oleh mereka sendiri.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 07/08/2026
‘Review Mills’: Cara Baru Mengakali Sistem Penilaian Artikel Ilmiah Sebuah karya ilmiah tentang cara menghilangkan cesium radioaktif dari air limbah dicabut oleh penerbitnya pada Oktober 2025. Paper itu tidak memuat data yang salah, karena dari total rujukan dalam artikel itu, 123 di antaranya…
sciencewatchdog.id
‘Review Mills’: Cara Baru Mengakali Sistem Penilaian Artikel Ilmiah
Sebuah karya ilmiah tentang cara menghilangkan cesium radioaktif dari air limbah dicabut oleh penerbitnya pada Oktober 2025. Paper itu tidak memuat data yang salah, karena dari total rujukan dalam artikel itu, 123 di antaranya adalah karya penulisnya sendiri, dan sebagian besar tidak ada kaitannya dengan isi tulisan. Paper ini ditulis oleh Rabiul Awual, insinyur yang karyanya sudah dikutip hampir 43.264 kali di…
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 24/07/2026
Reportase Khusus: Defisit Membengkak, Jerman Rombak Sistem Iuran Kesehatan Sistem asuransi kesehatan wajib Jerman, Gesetzliche Krankenversicherung (GKV), mencatat tarif iuran tertinggi dalam sejarahnya pada 2026, sebesar 17,7 persen dari penghasilan bruto peserta, di tengah proyeksi defisit yang…
sciencewatchdog.id
Reportase Khusus: Defisit Membengkak, Jerman Rombak Sistem Iuran Kesehatan
Sistem asuransi kesehatan wajib Jerman, Gesetzliche Krankenversicherung (GKV), mencatat tarif iuran tertinggi dalam sejarahnya pada 2026, sebesar 17,7 persen dari penghasilan bruto peserta, di tengah proyeksi defisit yang dapat mencapai 44 miliar euro pada 2030 jika tidak ada intervensi kebijakan. Menanggapi tekanan fiskal ini, Bundestag mengesahkan undang-undang stabilisasi tarif iuran pada 10 Juli 2026, hanya beberapa jam sebelum disetujui pula oleh…
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 10/07/2026
Mengapa Dosen Harus Tetap Menulis? Menulis adalah Sikap Intelektual Jumlah karya yang ditulis dosen di Indonesia hampir tak terhitung. Basis data SINTA mencatat ratusan ribu artikel jurnal terakreditasi setiap tahun, belum termasuk laporan penelitian, buku ajar, modul pembelajaran, dan tulisan…
sciencewatchdog.id
Mengapa Dosen Harus Tetap Menulis?
Menulis adalah Sikap Intelektual Jumlah karya yang ditulis dosen di Indonesia hampir tak terhitung. Basis data SINTA mencatat ratusan ribu artikel jurnal terakreditasi setiap tahun, belum termasuk laporan penelitian, buku ajar, modul pembelajaran, dan tulisan opini yang tersebar di berbagai media cetak dan digital. Sebagian besar produksi tersebut lahir sebagai bagian dari kewajiban tridarma perguruan tinggi dan pemenuhan angka kredit jabatan akademik.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 09/07/2026
Kelindan Kolonialisme Sejarah Kebijakan Gizi di Indonesia Konsep mengenai pangan yang sehat dan bergizi sering kali kita anggap sebagai sebuah kebenaran universal yang bersifat alami. Namun, jika menengok sejarah, pemahaman mengenai gizi tidaklah lahir dari ruang hampa yang netral. Ilmu gizi…
sciencewatchdog.id
Kelindan Kolonialisme Sejarah Kebijakan Gizi di Indonesia
Konsep mengenai pangan yang sehat dan bergizi sering kali kita anggap sebagai sebuah kebenaran universal yang bersifat alami. Namun, jika menengok sejarah, pemahaman mengenai gizi tidaklah lahir dari ruang hampa yang netral. Ilmu gizi modern dibentuk oleh kepentingan, kebutuhan sosial-ekonomi, dan konteks politik zamannya. Di Indonesia, transformasi pemahaman dari sekadar urusan "ketersediaan pangan" (kuantitas) menjadi urusan "gizi publik" (kualitas) secara masif terjadi pada dekade 1930-an hingga 1940-an.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 08/07/2026
Peer Review Berbayar: Ancaman bagi Integritas atau Jalan Keluar? Selama lebih dari tiga abad lamanya, tinjauan sejawat (peer review) menjadi fondasi utama dalam menjaga mutu publikasi ilmiah. Sebelum sebuah penelitian diterbitkan, naskah akan diperiksa secara kritis oleh peneliti lain yang…
sciencewatchdog.id
Peer Review Berbayar: Ancaman bagi Integritas atau Jalan Keluar?
Selama lebih dari tiga abad lamanya, tinjauan sejawat (peer review) menjadi fondasi utama dalam menjaga mutu publikasi ilmiah. Sebelum sebuah penelitian diterbitkan, naskah akan diperiksa secara kritis oleh peneliti lain yang memiliki keahlian di bidang yang sama. Dari proses inilah berbagai kelemahan metodologis, kesalahan analisis, hingga klaim yang belum didukung bukti dapat diidentifikasi sebelum menjadi bagian dari literatur ilmiah.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 01/07/2026
Saya Tidak Stres, Hanya Sedang PhD Seorang kandidat doktor mengusap tengkuknya yang kaku sambil terus menatap layar laptop. Kepalanya berdenyut sejak sore. Perutnya juga terasa tidak nyaman, entah karena kopi ketiga atau karena ia melewatkan makan siangnya. Ia menepis semua itu dengan satu kalimat…
sciencewatchdog.id
Saya Tidak Stres, Hanya Sedang PhD
Seorang kandidat doktor mengusap tengkuknya yang kaku sambil terus menatap layar laptop. Kepalanya berdenyut sejak sore. Perutnya juga terasa tidak nyaman, entah karena kopi ketiga atau karena ia melewatkan makan siangnya. Ia menepis semua itu dengan satu kalimat yang sudah jadi mantra harian: "Aku cuma stres." Ilustrasi di atas mungkin sering menjadi cerita banyak orang yang sedang menempuh pendidikan doktoral. Saya sendiri saat ini sedang menempuh jenjang pendidikan akademik tertinggi ini.
010 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 29/06/2026
Reportase #HeatWave Eropa: WHO Sebut Benua Ini Tidak Lagi Siap Menghadapi Iklim Baru Paris pada akhir Juni biasanya dipenuhi oleh jutaan wisatawan yang ingin menikmati awal musim panas yang hangat. Namun tahun ini, jalanan di ibu kota Prancis tersebut berubah drastis menjadi pusat respons darurat…
sciencewatchdog.id
Reportase #HeatWave Eropa: WHO Sebut Benua Ini Tidak Lagi Siap Menghadapi Iklim Baru
Paris pada akhir Juni biasanya dipenuhi oleh jutaan wisatawan yang ingin menikmati awal musim panas yang hangat. Namun tahun ini, jalanan di ibu kota Prancis tersebut berubah drastis menjadi pusat respons darurat yang mencekam. Sirine ambulans berlalu lalang tanpa henti membelah kota. Dari laporan France24, rumah sakit-rumah sakit utama segera dipenuhi oleh lonjakan pasien yang mengalami dehidrasi akut, heat stroke…
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 28/06/2026
Demokrasi tidak otomatis membaik hanya karena masyarakat menjadi lebih akrab satu sama lain. Hubungan sosial yang lebih sehat merupakan fondasi yang penting, tetapi kualitas demokrasi tetap bergantung pada kekuatan institusi yang menjamin bahwa setiap warga negara..
sciencewatchdog.id
Benarkah Polarisasi Politik Mengancam Demokrasi Indonesia?
Sejak Pemilihan Presiden 2014, istilah polarisasi hampir tidak pernah absen dari diskusi politik Indonesia. Perbedaan pilihan politik dianggap memecah keluarga, memutus pertemanan, memperuncing perdebatan di media sosial, hingga mengancam persatuan nasional. Fenomena ini kembali menjadi perhatian menjelang dan setelah Pemilu 2024, ketika ruang digital dipenuhi pertarungan narasi politik yang sering kali lebih emosional daripada substantif. Di tengah situasi tersebut, muncul satu asumsi yang hampir diterima sebagai kebenaran umum: …
100 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 27/06/2026
Indonesia’s Publish or Perish System is Becoming a Perfect Market for Fake Science When people discuss artificial intelligence in scientific publishing, the concern usually centres on whether researchers are using chatbots to write manuscripts. That concern is understandable, but it may not be the…
sciencewatchdog.id
Indonesia’s Publish or Perish System is Becoming a Perfect Market for Fake Science
When people discuss artificial intelligence in scientific publishing, the concern usually centres on whether researchers are using chatbots to write manuscripts. That concern is understandable, but it may not be the most serious threat facing the scientific record. A more subtle problem is spreading through the literature: references that look entirely legitimate but point to papers that never existed. These fabricated citations are increasingly appearing in published research, often escaping both editorial checks and peer review.
010 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 25/06/2026
Musim panas 2026 kembali mengingatkan Eropa bahwa perubahan iklim tidak hanya berbicara tentang kenaikan suhu rata-rata global, tetapi juga tentang meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem.
sciencewatchdog.id
Omega Block: Fenomena Atmosfer di Balik Gelombang Panas Ekstrem Eropa
Musim panas 2026 kembali mengingatkan Eropa bahwa perubahan iklim tidak hanya berbicara tentang kenaikan suhu rata-rata global, tetapi juga tentang meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem. Pada akhir Juni 2026, sebagian besar Eropa Barat dan Tengah mengalami gelombang panas yang sangat intens. Prancis, Spanyol, Italia, Jerman, Belgia, Swiss, Luksemburg, hingga Inggris mencatat suhu yang jauh di atas rata-rata musiman. Di Belgia, otoritas bahkan mengeluarkan peringatan gelombang panas nasional pada 24 Juni ketika suhu diperkirakan melampaui 30°C dan mendekati 38°C pada akhir pekan.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 24/06/2026
  Sains Terbuka Indonesia: Antara Ambisi Besar dan Kesenjangan Kebijakan Indonesia telah menyerahkan laporan pertamanya kepada UNESCO mengenai implementasi Rekomendasi Open Science 2021, sebuah kerangka global yang mendorong keterbukaan penuh dalam siklus penelitian ilmiah. Laporan yang disusun…
sciencewatchdog.id
 
Sains Terbuka Indonesia: Antara Ambisi Besar dan Kesenjangan Kebijakan Indonesia telah menyerahkan laporan pertamanya kepada UNESCO mengenai implementasi Rekomendasi Open Science 2021, sebuah kerangka global yang mendorong keterbukaan penuh dalam siklus penelitian ilmiah. Laporan yang disusun oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu menggambarkan potret yang jujur sekaligus problematis: infrastruktur fisik mulai dibangun, namun budaya, regulasi, dan insentif yang menopang sains terbuka masih jauh dari memadai.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 18/06/2026
Membandingkan pendekatan interpretif dengan kuantitatif untuk menentukan mana yang “lebih benar” adalah kekeliruan fatal.
sciencewatchdog.id
Kuanti vs. Kuali: Mana yang sahih menentukan kebenaran?
Membandingkan pendekatan interpretif dengan kuantitatif untuk menentukan mana yang “lebih benar” adalah kekeliruan fatal. Dalam filsafat ilmu, dua paradigma yang menggunakan terminologi, asumsi, dan kriteria kebenaran yang berbeda disebut incommensurable – tidak dapat dibandingkan secara langsung karena tidak ada “hakim netral” di antara keduanya.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 17/06/2026
Paradigma dan metodologi adalah instrumen untuk memahami dunia, bukan lensa yang secara mutlak menentukan bagaimana dunia harus dipahami.
sciencewatchdog.id
Berdialoglah, Bukan Berperang Paradigma
Kita kadang telah terlalu fokus pada asumsi-asumsi ontologis dan epistemologis yang memisahkan paradigma, sementara mengabaikan sejauh mana para peneliti dalam praktik sehari-hari sebenarnya bergerak secara lebih pragmatis
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 16/06/2026
Dampak Putusan Jerman terhadap Akses Terbuka di Eropa Pada 24 Maret 2026, sebuah pengadilan di Jerman mengeluarkan putusan yang berpotensi memengaruhi perdebatan panjang mengenai akses terbuka (Open Access/OA), hak cipta akademik, dan kebebasan akademik di Eropa. Pengadilan menyatakan bahwa…
sciencewatchdog.id
Dampak Putusan Jerman terhadap Akses Terbuka di Eropa
Pada 24 Maret 2026, sebuah pengadilan di Jerman mengeluarkan putusan yang berpotensi memengaruhi perdebatan panjang mengenai akses terbuka (Open Access/OA), hak cipta akademik, dan kebebasan akademik di Eropa. Pengadilan menyatakan bahwa kewajiban penyimpanan naskah artikel ilmiah yang diberlakukan oleh Negara Bagian Baden-Württemberg terhadap para akademisi di universitas negeri tidak sah sejak awal. Kasus ini bermula dari gugatan yang diajukan oleh tujuh belas akademisi yang menilai bahwa aturan tersebut melanggar hak-hak dasar mereka, termasuk kebebasan berekspresi dan kebebasan akademik.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 15/06/2026
Why Scientists and Journalists Continue to Fail to Understand One Another When a preprint on COVID-19 transmission (chloroquine/hydroxychloroquine, ivermectin) circulated without peer review in early 2020, media outlets around the world ran headlines treating it as a confirmed scientific finding.…
sciencewatchdog.id
Why Scientists and Journalists Continue to Fail to Understand One Another
When a preprint on COVID-19 transmission (chloroquine/hydroxychloroquine, ivermectin) circulated without peer review in early 2020, media outlets around the world ran headlines treating it as a confirmed scientific finding. These media reports were also used by politicians to justify a series of policies to combat the spread of the virus during the pandemic. The circulation and amplification of this media content sparked debate in the public digital sphere.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 15/06/2026
Mengapa Ilmuwan dan Jurnalis Terus Gagal Memahami Satu Sama Lain Ketika sebuah preprint tentang penularan COVID-19 (chloroquine/hydroxychloroquine, ivermectin) beredar tanpa melalui tinjauan sejawat pada awal 2020, redaksi media di seluruh dunia memuat berita utama yang memperlakukannya sebagai…
sciencewatchdog.id
Mengapa Ilmuwan dan Jurnalis Terus Gagal Memahami Satu Sama Lain
Ketika sebuah preprint tentang penularan COVID-19 (chloroquine/hydroxychloroquine, ivermectin) beredar tanpa melalui tinjauan sejawat pada awal 2020, redaksi media di seluruh dunia memuat berita utama yang memperlakukannya sebagai temuan ilmiah yang telah terkonfirmasi. Ulasan redaksi di media juga dimainkan oleh politisi untuk membenarkan serangkaian kebijakan penanggulangan penularan virus dalam pandemi. Peredaran dan amplifikasi konten media ini memicu perdebatan ruang digital publik.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 14/06/2026
Psikologi Makan: Lebih dari Sekadar Mengisi Perut Kosong Dua minggu yang lalu Anda sudah konsisten mengurangi karbohidrat, menghindari gorengan, dan mencatat kalori setiap hari. Lalu Sabtu malam datang, ada makan malam keluarga besar, dan dalam dua jam semua komitmen itu runtuh. Senin pagi, Anda…
sciencewatchdog.id
Psikologi Makan: Lebih dari Sekadar Mengisi Perut Kosong
Dua minggu yang lalu Anda sudah konsisten mengurangi karbohidrat, menghindari gorengan, dan mencatat kalori setiap hari. Lalu Sabtu malam datang, ada makan malam keluarga besar, dan dalam dua jam semua komitmen itu runtuh. Senin pagi, Anda memulai dari nol lagi. Biasanya Anda akan merasa bahwa hal ini merupakan bentuk kegagalan niat. Namun, sebuah telaah oleh peneliti psikolog kesehatan dari Universitas Mannheim (Jerman)
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 03/06/2026
Book Review Sulphuric Utopias: Ketika Gas Belerang Menjadi Mesin Globalisasi Modern Bagaimana perdagangan global dapat terus berjalan ketika kapal-kapal membawa penyakit mematikan dari satu benua ke benua lain? Pertanyaan ini menjadi pusat perhatian dalam buku Sulphuric Utopias: A History of…
sciencewatchdog.id
Book Review Sulphuric Utopias: Ketika Gas Belerang Menjadi Mesin Globalisasi Modern
Bagaimana perdagangan global dapat terus berjalan ketika kapal-kapal membawa penyakit mematikan dari satu benua ke benua lain? Pertanyaan ini menjadi pusat perhatian dalam buku Sulphuric Utopias: A History of Maritime Fumigation oleh Lukas Engelmann dan Christos Lynteris, sebuah karya sejarah yang menelusuri hubungan antara sanitasi maritim, revolusi bakteriologi, dan ekspansi kapitalisme global pada akhir abad ke-19. Buku ini mengangkat tema yang jarang mendapat perhatian dalam sejarah kesehatan publik maupun sejarah teknologi.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 28/05/2026
Skandal Stapel: Jauh Sebelum Kasus Prihantini–Rifaldy Viral Rifaldy Fajar dan Prihantini disorot atas dugaan pemalsuan data riset pada konferensi internasional berbasis AI. Kasus pemalsuan data bukan hal yang baru, bahkan dilakukan oleh profesor. Diederik Stapel pernah dianggap sebagai peneliti…
sciencewatchdog.id
Skandal Stapel: Jauh Sebelum Kasus Prihantini–Rifaldy
Viral Rifaldy Fajar dan Prihantini disorot atas dugaan pemalsuan data riset pada konferensi internasional berbasis AI. Kasus pemalsuan data bukan hal yang baru, bahkan dilakukan oleh profesor. Diederik Stapel pernah dianggap sebagai peneliti prolifik dalam psikologi sosial di Eropa. Bagi yang belum mengenalnya, ia adalah profesor di Tilburg University. Stafel dikenal produktif, sering muncul di media, dan menghasilkan penelitian-penelitian dengan kesimpulan yang terdengar elegan sekaligus provokatif, beberapa jurnal prestisius seperti…
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 21/05/2026
Wabah Bundibugyo: Ancaman Baru Ebola 2026 Pada 17 Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah ini sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), status darurat kesehatan tertinggi yang bisa dikeluarkan WHO. Virus yang sudah lama dikenal ilmuwan, tetapi beberapa…
sciencewatchdog.id
Wabah Bundibugyo: Ancaman Baru Ebola 2026
Pada 17 Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah ini sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), status darurat kesehatan tertinggi yang bisa dikeluarkan WHO. Virus yang sudah lama dikenal ilmuwan, tetapi beberapa tahun terakhir, terlebih setelah pandemi COVID-19, kurang mendapat perhatian publik karena wabahnya selama ini terisolasi di Afrika dan relatif sudah terkendali. Kini, virus itu muncul dalam kondisi yang semakin tidak pasti dan belum ada vaksin untuk menghadapinya.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 16/05/2026
Sains Sedang Dimanipulasi, Apa yang Perlu Kita Ketahui? Laporan Forensic Scientometrics (FoSci) 2026 memberikan kerangka kerja bagi penerbit, lembaga, pemberi dana, dan pembuat kebijakan untuk memperkuat integritas penelitian serta memulihkan kepercayaan terhadap sains. Pada tahun 2022, Anna…
sciencewatchdog.id
Sains Sedang Dimanipulasi, Apa yang Perlu Kita Ketahui?
Laporan Forensic Scientometrics (FoSci) 2026 memberikan kerangka kerja bagi penerbit, lembaga, pemberi dana, dan pembuat kebijakan untuk memperkuat integritas penelitian serta memulihkan kepercayaan terhadap sains. Pada tahun 2022, Anna Abalkina, seorang peneliti di Freie Universität Berlin, menemukan sesuatu yang tidak biasa ketika memeriksa alamat email para penulis di Journal of Community Psychology, sebuah jurnal arus utama yang terkemuka. Enam artikel mencantumkan alamat email dari domain 
011 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 11/05/2026
Tiga Orang Meninggal di Kapal Pesiar, Satu Warga Jerman: Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Hantavirus? Dari Munich, saya mengikuti perkembangan wabah ini lewat siaran pers RKI dan berita Jerman. Begini yang perlu Anda ketahui. Pertengahan April lalu, notifikasi dari Robert Koch-Institut (RKI) —…
sciencewatchdog.id
Tiga Orang Meninggal di Kapal Pesiar, Satu Warga Jerman: Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Hantavirus?
Dari Munich, saya mengikuti perkembangan wabah ini lewat siaran pers RKI dan berita Jerman. Begini yang perlu Anda ketahui. Pertengahan April lalu, notifikasi dari Robert Koch-Institut (RKI) — lembaga yang di Jerman berfungsi seperti gabungan antara BPOM dan Kemenkes dalam urusan surveilans penyakit — mulai ramai dibicarakan oleh media Jerman, termasuk tempat tinggal saya saat ini di Munich. Sebuah kapal pesiar kecil, 
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 19/04/2026
Pada 11 April 2026, Marie-Louise Eta menjadi perempuan pertama yang memimpin tim pria di salah satu dari lima liga elit Eropa. Bukan divisi tiga. Bukan liga kecil di negara yang tidak ada yang menonton. Bundesliga. Satu dari liga paling bergengsi di planet ini. Dan dunia sepak bola merespons dengan
sciencewatchdog.id
Perempuan di Tepi Lapangan Kota Berlin
Saya pertama kali mencintai sepak bola bukan karena gol spektakuler atau final yang dramatis. Di desa pada era 1990-an, akses terhadap siaran langsung sangat terbatas. Kecintaan itu justru tumbuh karena rumah kami bersebelahan dengan satu-satunya lapangan sepak bola di kecamatan. Hampir setiap sore, selepas Asar hingga azan Magrib berkumandang, saya menyaksikan para pemain "tarkam" bertanding. Setiap perayaan Agustusan, selama hampir sebulan penuh, lapangan kecamatan menjadi pusat pertandingan antardesa.
010 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 19/04/2026
Semangat Bandung dan Masa Depan Ekosistem Pengetahuan Selatan-Selatan Pada April 1955, 29 delegasi dari Asia dan Afrika berkumpul di Gedung Merdeka, Bandung. Mereka tidak memiliki senjata nuklir maupun armada jet tempur, tetapi mereka percaya bahwa bangsa-bangsa yang baru merdeka berhak menentukan…
sciencewatchdog.id
Semangat Bandung dan Masa Depan Ekosistem Pengetahuan Selatan-Selatan
Pada April 1955, 29 delegasi dari Asia dan Afrika berkumpul di Gedung Merdeka, Bandung. Mereka tidak memiliki senjata nuklir maupun armada jet tempur, tetapi mereka percaya bahwa bangsa-bangsa yang baru merdeka berhak menentukan nasibnya sendiri. Tujuh puluh satu tahun kemudian, keyakinan itu perlu diuji kembali, kali ini di arena yang jarang dibicarakan dalam peringatan-peringatan Bandung, yaitu arena pengetahuan. Konferensi Asia-Afrika lazimnya dibaca sebagai peristiwa diplomatik, sekaligus langkah menuju Gerakan Non-Blok di tengah persaingan antara Washington dan Moskow.
010 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 15/04/2026
Stand with Science in an Unequal World One week ago, the World Health Organization's theme for World Health Day, 7 April 2026, carried unmistakable urgency: "Together for Health. Stand with Science." In recent years, public trust in scientific institutions has been eroded by political…
sciencewatchdog.id
Stand with Science in an Unequal World
One week ago, the World Health Organization's theme for World Health Day, 7 April 2026, carried unmistakable urgency: "Together for Health. Stand with Science." In recent years, public trust in scientific institutions has been eroded by political polarization, disinformation, and uncertainty in research funding across many countries. The call to defend the integrity of science is therefore understandable. Yet the slogan also raises a question rarely discussed openly, one that touches on the current hegemony of global knowledge systems: whose scientific system is actually being defended, and under what political conditions are other countries expected to produce scientific knowledge?
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 07/04/2026
“Berdiri Bersama Sains” dalam Dunia yang Tak Setara Tema Hari Kesehatan Sedunia 7 April 2026 yang diserukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terdengar mendesak dengan slogan "Together for Health. Stand with Science." Beberapa tahun terakhir, kepercayaan publik terhadap institusi ilmiah menghadapi…
sciencewatchdog.id
“Berdiri Bersama Sains” dalam Dunia yang Tak Setara
Tema Hari Kesehatan Sedunia 7 April 2026 yang diserukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terdengar mendesak dengan slogan "Together for Health. Stand with Science." Beberapa tahun terakhir, kepercayaan publik terhadap institusi ilmiah menghadapi tekanan dari polarisasi politik, disinformasi, dan ketidakpastian pendanaan riset di sejumlah negara. Seruan untuk mempertahankan integritas sains dapat dipahami. Namun, slogan tersebut juga memunculkan pertanyaan yang jarang dibahas secara terbuka berkaitan dengan hegemoni sistem pengetahuan dunia saat ini.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 28/03/2026
When Water Becomes a Target of War Modern war increasingly extends beyond military positions to the infrastructure that sustains biological survival. In the current regional escalation involving Iran, one of the least visible but potentially most consequential vulnerabilities lies not in missile…
sciencewatchdog.id
When Water Becomes a Target of War
Modern war increasingly extends beyond military positions to the infrastructure that sustains biological survival. In the current regional escalation involving Iran, one of the least visible but potentially most consequential vulnerabilities lies not in missile systems or border deployments, but in desalination plants. These facilities, which convert seawater into potable water, underpin daily life across much of the Arabian Gulf. If they are deliberately targeted, the humanitarian consequences could exceed the immediate damage of conventional strikes.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 25/03/2026
Peluncuran The Conversation di Jerman: Harapan dan Skeptisisme Kabarnya, per Juli 2026, The Conversation menjumpai pembacanya dalam bahasa Jerman. Kabar ini sebenarnya sudah saya terima tahun yang lalu. Namun, agaknya tim editor ingin memastikan semuanya berjalan dengan lebih baik sehingga pada…
sciencewatchdog.id
Peluncuran The Conversation di Jerman: Harapan dan Skeptisisme
Kabarnya, per Juli 2026, The Conversation menjumpai pembacanya dalam bahasa Jerman. Kabar ini sebenarnya sudah saya terima tahun yang lalu. Namun, agaknya tim editor ingin memastikan semuanya berjalan dengan lebih baik sehingga pada akhirnya peluncuran The Conversation Deutschland dirilis saat musim panas tahun ini. Robin Markwica, Managing Director, The Conversation Deutschland, Österreich & Schweiz, memastikan bulan peluncurannya di Linkedin dengan mengonfirmasi artikel…
010 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 23/03/2026
Politik Melumpuhkan Kekebalan Berbeda dengan SARS-CoV-2, yang bermutasi menjadi varian-varian baru dengan kemampuan menghindari kekebalan tubuh, virus campak berubah jauh lebih lambat. Protein kunci pada permukaannya sangat terkonservasi secara evolusioner. Vaksin MMR yang dikembangkan dari strain…
sciencewatchdog.id
Politik Melumpuhkan Kekebalan
Berbeda dengan SARS-CoV-2, yang bermutasi menjadi varian-varian baru dengan kemampuan menghindari kekebalan tubuh, virus campak berubah jauh lebih lambat. Protein kunci pada permukaannya sangat terkonservasi secara evolusioner. Vaksin MMR yang dikembangkan dari strain tahun 1960-an masih efektif 97 persen terhadap semua genotipe yang beredar hari ini. Virus ini tidak perlu bermutasi untuk kembali menjadi ancaman. Yang dibutuhkannya jauh lebih sederhana, yaitu populasi yang menolak divaksinasi.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 18/03/2026
Media Tidak Lagi Sepenuhnya Milik Redaksi Sejak buku Media Power in Indonesia: Oligarchs, Citizens and the Digital Revolution yang ditulis Ross Tapsell tahun 2020, kita menjadi semakin tahu bahwa hubungan antara media dan kekuasaan dapat dipahami dengan lebih mudah dan dibaca dengan relatif…
sciencewatchdog.id
Media Tidak Lagi Sepenuhnya Milik Redaksi
Sejak buku Media Power in Indonesia: Oligarchs, Citizens and the Digital Revolution yang ditulis Ross Tapsell tahun 2020, kita menjadi semakin tahu bahwa hubungan antara media dan kekuasaan dapat dipahami dengan lebih mudah dan dibaca dengan relatif sederhana. Utamanya setelah bukunya dialihbahasakan oleh Wisnu Utomo dan dicetak oleh MarjinKiri. Sudah menjadi diskusi awam jika kepemilikan surat kabar oleh konglomerat, intervensi negara terhadap redaksi, atau tekanan iklan terhadap pemberitaan merupakan bentuk-bentuk klasik bagaimana media semakin kehilangan otonominya.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 15/03/2026
Penjaga Terakhir Mahzab Frankfurt: Jürgen Habermas dan Warisan Akal Budi Komunikatif Jürgen Habermas meninggal dunia pada 14 Maret 2026 di kota Starnberg, Bavaria, pada usia 96 tahun. Kematiannya dikonfirmasi oleh penerbitnya, Suhrkamp Verlag, atas nama keluarga. Dengan kepergiannya, dunia…
sciencewatchdog.id
Penjaga Terakhir Mahzab Frankfurt: Jürgen Habermas dan Warisan Akal Budi Komunikatif
Jürgen Habermas meninggal dunia pada 14 Maret 2026 di kota Starnberg, Bavaria, pada usia 96 tahun. Kematiannya dikonfirmasi oleh penerbitnya, Suhrkamp Verlag, atas nama keluarga. Dengan kepergiannya, dunia intelektual kehilangan bukan sekadar seorang filsuf besar, tetapi juga saksi hidup terakhir dari sebuah tradisi pemikiran yang lahir dari pengalaman paling traumatik abad kedua puluh: fasisme, genosida, dan runtuhnya kepercayaan pada akal budi itu sendiri.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 13/03/2026
The Attention Trap Why academics can no longer afford to stay silent, and what they risk by speaking up Academics once enjoyed a comfortable remove from public noise. Authority accumulated slowly, through journals, seminars, and institutional standing. That distance has collapsed. Consider what…
sciencewatchdog.id
The Attention Trap
Why academics can no longer afford to stay silent, and what they risk by speaking up Academics once enjoyed a comfortable remove from public noise. Authority accumulated slowly, through journals, seminars, and institutional standing. That distance has collapsed. Consider what happened to Didier Raoult, the French microbiologist who became one of the most visible scientific figures of the COVID-19 pandemic…
011 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 07/03/2026
Ideasi Konspirasi Dibalik Meledaknya Kasus Campak Lonjakan kasus campak yang disertai penurunan cakupan vaksinasi di Indonesia sering kali dijelaskan melalui dua istilah yang segera muncul dalam diskusi publik, yaitu "gerakan antivaksin" dan "teori konspirasi". Kekhawatiran terhadap kedua fenomena…
sciencewatchdog.id
Ideasi Konspirasi Dibalik Meledaknya Kasus Campak
Lonjakan kasus campak yang disertai penurunan cakupan vaksinasi di Indonesia sering kali dijelaskan melalui dua istilah yang segera muncul dalam diskusi publik, yaitu "gerakan antivaksin" dan "teori konspirasi". Kekhawatiran terhadap kedua fenomena tersebut memang wajar. Tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, dan lembaga yang memiliki otoritas kesehatan publik sejak lama melihatnya sebagai ancaman terhadap keberhasilan program imunisasi. Konteks Epidemiologis dan Urgensi Masalah…
010 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 06/03/2026
Wawancara Bersama Sabhrina Gita Aninta: Membaca Masa Depan Spesies melalui Genom Perkembangan genomik telah mengubah cara ilmuwan memahami konservasi biodiversitas, dari pendekatan perlindungan habitat menuju analisis evolusi populasi dan ketahanan genetik spesies. Wawancara saya baru-baru ini…
sciencewatchdog.id
Wawancara Bersama Sabhrina Gita Aninta: Membaca Masa Depan Spesies melalui Genom
Perkembangan genomik telah mengubah cara ilmuwan memahami konservasi biodiversitas, dari pendekatan perlindungan habitat menuju analisis evolusi populasi dan ketahanan genetik spesies. Wawancara saya baru-baru ini dengan Sabhrina Gita Aninta, peneliti pascadoktoral di University of Copenhagen yang bekerja di bidang conservation genomics, menjelaskan bahwa data genom memungkinkan ilmuwan membaca sejarah populasi sekaligus memprediksi masa depan spesies. Melalui analisis seluruh genom, peneliti dapat mengidentifikasi penurunan populasi, menilai keragaman genetik, serta merancang intervensi konservasi berbasis bukti.
010 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 02/03/2026
Tiongkok Membatasi Pendanaan APC di Jurnal Premium Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (CAS) mengumumkan pada awal 2025 kebijakan yang membatasi pendanaan institusional untuk biaya pengolahan artikel (APC) di sekitar 30 jurnal akses terbuka premium yang mengenakan biaya ≥$5.000 per artikel.…
sciencewatchdog.id
Tiongkok Membatasi Pendanaan APC di Jurnal Premium
Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (CAS) mengumumkan pada awal 2025 kebijakan yang membatasi pendanaan institusional untuk biaya pengolahan artikel (APC) di sekitar 30 jurnal akses terbuka premium yang mengenakan biaya ≥$5.000 per artikel. Intervensi ini mewakili respons institusional paling tegas terhadap inflasi APC yang pernah diterapkan oleh lembaga pendanaan penelitian besar. Kebijakan ini secara ekonomi dapat dibenarkan dan secara strategis signifikan—namun mengungkap ketidakselarasan fundamental antara mekanisme pasar dan insentif institusional dalam penerbitan ilmiah.
011 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 28/02/2026
Who Loses Their Voice When ‘Wikipedia Login’ Is Restricted? Indonesia has restricted Wikipedia's login feature. The government cites compliance with registration requirements for private electronic system operators. Technically, Wikipedia is not blocked—articles remain readable. But one vital…
sciencewatchdog.id
Who Loses Their Voice When ‘Wikipedia Login’ Is Restricted?
Indonesia has restricted Wikipedia's login feature. The government cites compliance with registration requirements for private electronic system operators. Technically, Wikipedia is not blocked—articles remain readable. But one vital function has vanished, like the ability to log in, edit, and contribute. For most people, Wikipedia is a place to look up quick definitions or historical summaries. For volunteers, educators, and researchers, it is a collective workspace.
003 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 26/02/2026
Indonesia's latest regulation allowing state universities with legal autonomy to take on debt has triggered a predictable backlash. Critics warn of creeping commercialisation, higher tuition fees, and the erosion of universities as public goods.
sciencewatchdog.id
Indonesia’s Universities and the Quiet Turn to Debt: Why the Outcry Came Late
Indonesia's latest regulation allowing state universities with legal autonomy to take on debt has triggered a predictable backlash. Critics warn of creeping commercialisation, higher tuition fees, and the erosion of universities as public goods. Yet the real puzzle is not why the policy is controversial, but why the controversy arrived so late. The Permendiktisaintek No. 1/2026 regulation, which formalises borrowing procedures for Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), did not emerge from nowhere.
000 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 24/02/2026
Bedah Artikel Filsafat Sains: Menimbang Kembali Peran Preregistasi dalam Sains Terbuka Gerakan sains terbuka telah mendorong berbagai reformasi metodologis untuk meningkatkan transparansi dan keandalan penelitian. Salah satu praktik yang paling menonjol adalah preregistrasi (preregistration)…
sciencewatchdog.id
Bedah Artikel Filsafat Sains: Menimbang Kembali Peran Preregistasi dalam Sains Terbuka
Gerakan sains terbuka telah mendorong berbagai reformasi metodologis untuk meningkatkan transparansi dan keandalan penelitian. Salah satu praktik yang paling menonjol adalah preregistrasi (preregistration) riset, yaitu dokumentasi hipotesis, metode, dan rencana analisis sebelum data dikumpulkan. Praktik ini dipromosikan pertama-tama oleh Brian Nosek (Center for Open Science/COS) sebagai cara untuk mencegah manipulasi analitik seperti p-hacking dan HARKing, serta untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap sains.
000 0
Reposted by Ilham Akhsanu Ridlo
LMU München @lmu.de · 03/02/2026
🏛️ 200 Years of LMU in Munich 🎓 Founded in 1472, relocated from Landshut to Munich in 1826 — today LMU celebrates 200 years in Munich and inaugurates Prof. Dr. Matthias H. Tschöp as President.
4199 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 03/02/2026
Wawancara Bersama Titan Hartono: Sudah tidak relevan lagi mengkotak-kotakan keilmuan Noor Titan Putri Hartono, PhD. Seiring berjalannya waktu, kita semua mengalami momen yang secara lambat namun tegas mengubah cara kita memahami sains dan diri kita sendiri. Wawancara saya baru-baru ini dengan Noor…
sciencewatchdog.id
Wawancara Bersama Titan Hartono: Sudah tidak relevan lagi mengkotak-kotakan keilmuan
Noor Titan Putri Hartono, PhD. Seiring berjalannya waktu, kita semua mengalami momen yang secara lambat namun tegas mengubah cara kita memahami sains dan diri kita sendiri. Wawancara saya baru-baru ini dengan Noor Titan Putri Hartono adalah salah satu momen tersebut. Sebagai seorang ilmuwan mekanik, Titan meraih gelar sarjana hingga PhD di Massachusetts Institute of Technology (MIT), di mana penelitian doktoralnya mengkaji kinerja dan stabilitas material surya yang sedang berkembang hingga saat ini.
012 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 10/01/2026
Hari-hari ini tidak sedikkit dari kita mengeluhkan hal yang serupa tentang mengapa sains yang sudah jelas, didukung data kuat, dan disampaikan berulang kali oleh para pakar tetap berujung pada kekecewaan karena tidak dijadikan dasar utama kebijakan publik.
sciencewatchdog.id
Mengapa Komunikasi Sains Gagal ‘Ampuh’ Mengubah Kebijakan Publik?
Hari-hari ini tidak sedikkit dari kita mengeluhkan hal yang serupa tentang mengapa sains yang sudah jelas, didukung data kuat, dan disampaikan berulang kali oleh para pakar tetap berujung pada kekecewaan karena tidak dijadikan dasar utama kebijakan publik. Kita juga sebenarnya paham bahwa kebijakan publik tidak bekerja semata-mata berdasarkan kebenaran ilmiah, melainkan bergerak dalam logika politik. Dua hal ini telah lama menjadi semacam "omon-omon" bersama.
021 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 06/01/2026
It’s a Precondition: There is No Public Health Without Peace Global conflict profoundly disrupts the structural and functional capacity of public health systems. Between 2023 and 2025, major theatres of violence and instability created conditions in which disease, famine, displacement, and…
sciencewatchdog.id
It’s a Precondition: There is No Public Health Without Peace
Global conflict profoundly disrupts the structural and functional capacity of public health systems. Between 2023 and 2025, major theatres of violence and instability created conditions in which disease, famine, displacement, and infrastructure collapse flourished, often in tandem. Public health collapses when war persists. Armed conflicts have systematically dismantled health systems, accelerated disease transmission, and produced excess mortality that far exceeds battlefield deaths.
010 0
Ilham Akhsanu Ridlo @sciencewatchdog.id · 23/12/2025
Global Science Kaleidoscope 2025: More Than Individual Scandals, This Is a Structural Crisis The year 2025 should be read as a moment when scientific misconduct must cease to be understood merely as individual moral deviation. More accurately, it reflects a failure of the global scientific…
sciencewatchdog.id
Global Science Kaleidoscope 2025: More Than Individual Scandals, This Is a Structural Crisis
The year 2025 should be read as a moment when scientific misconduct must cease to be understood merely as individual moral deviation. More accurately, it reflects a failure of the global scientific community in governing knowledge, particularly within the system of scholarly publishing. The year 2025 marks a significant point in the global timeline of research integrity. Rather than being triggered by a single spectacular scandal, discussions of scientific misconduct throughout the year were shaped by an accumulation of prominent cases, large-scale article retractions, and a growing awareness that the problem is systemic.
011 0